Kembali
Detail News

Pelantikan Kepala Sekolah Muhammadiyah Sragen, Fuad Ibrahim Diminta Jadi Solusi dan Pantang Mengeluh

Admin • 2026-08-26

Bagikan ini
Facebook WhatsApp

SRAGEN - Kepala Madrasah Aliyah Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen, Ustadz Fuad Ibrahim, S.M, bersama sembilan kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah lainnya resmi dilantik untuk periode 2026–2030 di Gedung IPHI Sragen, Rabu (26/8/2026). Pelantikan kepala sekolah Muhammadiyah Sragen tersebut menegaskan pentingnya kepemimpinan yang tangguh, solutif, dan siap berkorban untuk memajukan amal usaha Muhammadiyah.

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sragen, KH. Ali Rosyidhi, S.Pd., M.M., meminta para kepala sekolah yang baru dilantik memiliki semangat juang tinggi dalam menjalankan amanah. Menurutnya, kepala sekolah tidak boleh berhenti pada persoalan, tetapi harus hadir untuk mencari solusi.

“Kepala sekolah tidak boleh banyak mengeluh. Kepala sekolah harus menjadi solusi dari setiap permasalahan yang ada, siap berkorban,” ujar KH. Ali Rosyidhi.

Ia juga menekankan bahwa jabatan kepala sekolah bukan sekadar posisi struktural. Sebaliknya, amanah tersebut menuntut keteladanan, tanggung jawab, dan kesiapan menghadapi berbagai tantangan dalam mengembangkan sekolah dan madrasah Muhammadiyah.

Sementara itu, Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, Ustadz Dodok Sartono, M.M., menyampaikan arah penguatan Muhammadiyah melalui analogi sebuah pohon. Ia menjelaskan bahwa pohon memiliki akar, batang, serta daun atau buah yang saling berkaitan.

Menurut Dodok, akar menggambarkan jamaah, batang menggambarkan jamiyah, sedangkan daun atau buah menggambarkan jariyah. Ketiganya harus tumbuh secara seimbang agar gerakan Muhammadiyah semakin kuat.

 “Akar merupakan jamaah, batang adalah jamiyah, dan daun atau buah merupakan jariyah,” ujar Dodok Sartono.

Ia menjelaskan, jamaah menjadi sumber kekuatan dan pertumbuhan Muhammadiyah. Karena itu, penguatan jamaah perlu dilakukan melalui masjid, cabang, dan ranting, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Selain itu, Muhammadiyah perlu terus memperkuat ideologi serta pemahaman agama warga persyarikatan.

Pada sisi jamiyah, Dodok mendorong penguatan manajemen organisasi yang profesional, maju, dan modern (PMM). Langkah tersebut mencakup penguatan sumber daya manusia, sistem organisasi, jaringan, serta kemandirian keuangan.

Selanjutnya, aspek jariyah diarahkan pada pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang unggul. Bidang pendidikan, kesehatan, sosial, serta ekonomi dan industri menjadi bagian penting dari pengembangan jariyah Muhammadiyah.

“Kita harus membangun Amal Usaha Muhammadiyah unggulan, baik di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, maupun ekonomi dan industri,” ujar Dodok Sartono.

Dalam konteks pendidikan, kepala sekolah dan madrasah memiliki posisi strategis untuk menerjemahkan arah tersebut menjadi program nyata. Karena itu, kepemimpinan sekolah perlu berjalan seiring dengan penguatan organisasi dan pelayanan kepada masyarakat.

Pelantikan tersebut dihadiri jajaran PDM Sragen, termasuk Ketua PDM Sragen KH. Ali Rosyidhi beserta jajaran Pimpinan Pleno 13. Hadir pula Ketua Majelis Dikdasmen PDM Sragen Ustadz Suharno, S.P., M.Si., serta para guru dari sekolah dan madrasah yang kepala sekolahnya dilantik.

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan naskah pelantikan oleh Ketua Majelis Dikdasmen PDM Sragen, Ustadz Suharno, S.P., M.Si. Selanjutnya, para kepala sekolah dan madrasah menjalani rangkaian pengukuhan sebagai pimpinan satuan pendidikan Muhammadiyah periode 2026–2030.

Selain Fuad Ibrahim sebagai Kepala Madrasah Aliyah Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen, pelantikan juga mencakup sembilan kepala sekolah dan madrasah Muhammadiyah lainnya di Kabupaten Sragen.

Kesepuluh pimpinan tersebut diharapkan mampu membawa sekolah dan madrasah masing-masing menjadi lembaga pendidikan yang unggul. Dengan semangat kepemimpinan yang kuat, manajemen profesional, serta penguatan jamaah, jamiyah, dan jariyah, mereka diharapkan mampu memperkuat kontribusi pendidikan Muhammadiyah bagi masyarakat.

Pelantikan kepala sekolah Muhammadiyah Sragen periode 2026–2030 akhirnya menjadi momentum awal bagi para pimpinan baru untuk bekerja, berinovasi, dan memberikan pelayanan terbaik. Amanah kepemimpinan itu kini menuntut aksi nyata: tidak banyak mengeluh, mampu menjadi solusi, dan siap berkorban untuk kemajuan pendidikan Muhammadiyah.