Kembali
Detail News

Pondok Pesantren di Sragen Ini Gembleng Kemandirian Santri Melalui Ragam Tantangan Alam

Admin • 2026-06-14

Bagikan ini
Facebook WhatsApp

KARANGANYAR - Ratusan santri SMP dan MA Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (DIMSA) berhasil menyelesaikan tantangan fisik dan mental dalam agenda Camping Ceria 2026 di Bumi Perkemahan Sekipan, Tawangmangu, Karanganyar, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan luar ruangan selama tiga hari tersebut bertujuan untuk melatih kemandirian anak serta membangun karakter tangguh di tengah perkembangan zaman.

Pondok Pesantren di Sragen ini merancang seluruh rangkaian kegiatan untuk menguji ketahanan mental dan fisik para santri. Selama berada di alam terbuka, para peserta harus mengurus seluruh kebutuhan logistik mereka secara mandiri tanpa bantuan eksternal.

Sejak hari pertama, panitia langsung menguji kesiapan mereka melalui agenda pendirian tenda secara berkelompok. Kreativitas dan kerja sama tim menjadi kunci utama agar tempat bernaung mereka kokoh menghadapi cuaca ekstrem. Aktivitas ini secara efektif melatih kemandirian anak dalam menyelesaikan masalah kelompok secara cepat.

Kemandirian tersebut tidak hanya terlihat saat mendirikan tenda, tetapi juga tercermin dalam aktivitas harian. Para santri secara bergilir mengelola konsumsi kelompok, mulai dari menyiapkan bahan baku hingga memasak bersama di area perkemahan. Rutinitas padat ini memaksa para santri untuk melepaskan ketergantungan pada fasilitas serba praktis yang biasa mereka nikmati di rumah.

Selanjutnya, kegiatan kepanduan ini juga menyajikan berbagai tantangan fisik dan kecerdasan. Para peserta wajib mengikuti perlombaan ketangkasan, pionering kaki tiga, hingga cerdas cermat. Melalui simulasi tersebut, organisasi santri dapat mengasah kecepatan berpikir sekaligus memperkuat kerja sama tim di bawah tekanan udara dingin.

Meskipun fisik terkuras, aspek spiritual tetap menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter para peserta. Mereka secara konsisten menerapkan disiplin ibadah melalui pelaksanaan shalat tahajjud berjamaah, tadarrus Al-Qur'an, dan kajian subuh di tengah alam. Kombinasi aktivitas fisik dan penguatan mental spiritual ini menjadi poin pembeda utama dari kegiatan santri DIMSA.

Sebelum mengakhiri perkemahan, seluruh peserta bergotong royong membersihkan kawasan bumi perkemahan secara menyeluruh. Langkah konkret ini menjadi pembuktian nyata atas nilai-nilai kemandirian dan tanggung jawab sosial yang telah mereka pelajari selama kegiatan berlangsung. Ponpes Dimsa menekankan bahwa santri modern harus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar.

Kepala Madrasah Aliyah DIMSA, Ustadz Fuad Ibrahim, S.M., menegaskan pentingnya implementasi nilai-nilai ekologi pasca-kegiatan ini. "Seluruh peserta harus memahami pentingnya menjaga keseimbangan alam, melestarikan dan menjaganya," ujar Ustadz Fuad Ibrahim, S.M. saat memberikan arahan substantif dalam Apel Pembukaan.

Senada dengan hal tersebut, pada saat Apel Penutupan, Ustadz Wibowo Juli Saputro, M.Pd., mengingatkan para santri untuk membawa pulang esensi pembelajaran ini ke lingkungan pesantren. Beliau menekankan bahwa esensi berkemah jauh lebih mendalam daripada sekadar aktivitas rekreasi luar ruangan.

"Kita banyak belajar, tidak sekedar tidur di tenda, tidak hanya sekedar masak bareng tapi belajar bagaimana bisa hidup di alam, memahami kebesaran Allah," ujar Ustadz Wibowo Juli Saputro, M.Pd. Beliau juga menambahkan, "Sebelum kembali ke pondok, pastikan kondisi Bumi perkemahan dalam keadaan bersih seperti saat kita datang."