Kembali
Detail News

KH Ali Rosyidhi: Teladan Siti Hajar Ajarkan Santri Pantang Menyerah

Admin • 2026-05-11

Bagikan ini
Facebook WhatsApp

Dalam kajian pamitan haji di Ponpes Dimsa, KH Ali Rosyidhi menegaskan bahwa kisah Siti Hajar dan Zamzam menjadi contoh penting bagi santri untuk istiqomah, ikhlas, dan tidak mudah menyerah saat menuntut ilmu.

KH Ali Rosyidhi menilai proses menuntut ilmu harus dijalani dengan kesungguhan dan istiqomah. Karena itu, ia mengajak para santri meneladani perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail.

Menurutnya, kisah Siti Hajar dan Zamzam menjadi gambaran nyata tentang ikhtiar dan keteguhan dalam menjalani proses kehidupan. Terlebih, seorang santri juga harus siap menghadapi tahapan panjang sebelum meraih keberhasilan.

“Belajar adalah proses dan harus dilandasi dengan niat karena Allah. Allah meminta kita berproses, bergerak sampai Allah memberikan ketetapan kepada kita,” ujar KH Ali Rosyidhi.

Selain itu, ia menegaskan bahwa belajar di pesantren merupakan pilihan tepat untuk membentuk pribadi unggul. Sebab, proses pendidikan di pesantren tidak hanya berfokus pada ilmu pengetahuan, tetapi juga pembentukan karakter.

“Kalau ingin menjadi sosok yang unggul maka harus dilatih dengan proses yang sungguh-sungguh,” ujarnya.

Teladan Siti Hajar Jadi Motivasi Belajar Santri

Dalam kajiannya, KH Ali Rosyidhi mencontohkan perjuangan Siti Hajar yang berlari dari Bukit Shafa ke Marwah sebanyak tujuh kali demi mencari air untuk anaknya. Namun, setelah usaha itu dilakukan dengan penuh keyakinan, Allah kemudian menghadirkan air Zamzam sebagai karunia.

Menurut dia, teladan Siti Hajar dapat menjadi motivasi belajar santri agar tidak mudah menyerah saat menghadapi kesulitan dalam menuntut ilmu.

“Belajar dari Siti Hajar saat anaknya menangis kehausan, beliau berproses mencari air dengan lari ke Bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali sampai Allah memberikan karunia berupa air,” kata KH Ali Rosyidhi.

Karena itu, ia meminta santri terus menjaga semangat menuntut ilmu. Ia juga mengingatkan pentingnya ketertarikan dalam belajar agar proses mencari ilmu tidak menimbulkan kebosanan.

“Dalam belajar memerlukan ketertarikan sehingga tidak ada kebosanan hingga ilmu itu diraih,” ujarnya.

Tekankan Niat, Ikhlas, dan Hormat kepada Guru

Di sisi lain, KH Ali Rosyidhi mengingatkan bahwa ilmu harus dibarengi adab dan keikhlasan. Ia menilai hubungan baik antarsesama serta sikap hormat kepada guru menjadi bagian penting dalam pendidikan pesantren.

“Menuntut ilmu harus dilandasi niat, istiqomah, dan ikhlas, menjaga hubungan baik kepada sesama, hormat dan takdim kepada ustaz dan ustazah,” tuturnya.

Lebih lanjut, ia meminta santri tidak bersikap sombong saat belajar. Namun, santri juga tidak boleh minder dalam mengembangkan kemampuan diri.

“Jangan sombong, tetapi juga tidak boleh minder dalam belajar,” ujar KH Ali Rosyidhi.

Ia pun mengajak seluruh santri memanfaatkan waktu di pesantren untuk memperbanyak ilmu dan memperkuat kualitas diri. Menurutnya, Allah akan memantaskan seseorang yang terus bersungguh-sungguh dalam belajar dan berproses menjadi lebih baik.