Kembali
Detail News

Bantah Mitos Gerhana Bulan, Khatib Dimsa Sragen Beberkan Fakta Sains dan Hadis

Admin • 2026-03-03

Bagikan ini
Facebook WhatsApp

Mitos gerhana bulan yang mengaitkan hilangnya cahaya dengan hal mistis atau kematian seseorang secara tegas dibantah oleh Ustaz Hamdan Alfath, S.Pd. Penolakan terhadap pemikiran irasional itu ia jabarkan saat mengisi khutbah Shalat Gerhana di Masjid Ponpes Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (Dimsa), Selasa (3/3/2026) malam. Agenda ibadah ini diikuti dengan khusyuk oleh seluruh santri serta jajaran ustaz dan ustazah Ponpes Dimsa.

Menepis Takhayul Masa Lalu Masyarakat masa lalu sering mengaitkan gerhana dengan hal gaib. Bahkan, mereka kerap memercayai bulan hilang akibat dimakan raksasa. Namun, ajaran Islam menolak tegas pemikiran irasional tersebut. Khatib menegaskan bahwa gerhana murni merupakan tanda kebesaran Sang Pencipta.

"Pada zaman dahulu, masyarakat sering menghubungkan gerhana dengan hal mistis, seperti bulan ditelan raksasa atau dikaitkan dengan kematian tokoh penting," ujar Ustaz Hamdan Alfath.

Oleh karena itu, umat Islam wajib membersihkan akidah dari segala bentuk mitos gerhana bulan. Fenomena ini sama sekali tidak berkaitan dengan nasib buruk seseorang. Sebaliknya, peristiwa ini hadir untuk mengingatkan manusia pada kekuasaan Allah.

Penjelasan Sains Gerhana Bulan Saat ini, ilmu pengetahuan telah berkembang sangat pesat. Akibatnya, kita bisa memahami fenomena alam ini secara logis. Kemajuan astronomi memberikan penjelasan sains gerhana bulan yang sangat akurat.

"Di era modern ini, sains bisa menjelaskan dengan sangat rinci bahwa gerhana bulan terjadi karena Matahari, Bumi, dan Bulan berada pada satu garis lurus," ujar Ustaz Hamdan.

Selain itu, ajaran Nabi Muhammad SAW nyatanya telah mendahului sains modern. Beliau sejak dahulu melarang keras umatnya mengaitkan gerhana dengan kematian seseorang. Fakta ini membuktikan bahwa Islam selalu sejalan dengan akal sehat.

"Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak gerhana karena kematian atau kehidupan seseorang," tegas Ustaz Hamdan mengutip sabda Rasulullah SAW.

Rangkaian Sholat Gerhana Muhammadiyah Selanjutnya, umat Islam merespons fenomena gerhana 2026 ini dengan mendekatkan diri kepada Allah. Ponpes Darul Ihsan Muhammadiyah Sragen (Dimsa) pun merespons momen ini dengan menggelar sholat gerhana Muhammadiyah secara berjemaah. Agenda ibadah ini berlangsung khusyuk di Masjid Dimsa. Ustaz Fauzan Al-Hafidz memimpin langsung jalannya shalat sebagai imam.

Oleh sebab itu, kita harus meninggalkan segala takhayul. Kita justru harus memperbanyak ibadah saat gerhana terjadi. Khatib mengajak seluruh jemaah untuk beristighfar, bertakbir, bersedekah, dan mendirikan shalat. Langkah ini sangat selaras dengan semangat ibadah di bulan suci Ramadhan.